Rabu, 03 Desember 2014

Perempuan Dalam Menjawab Tantangan Global


Ungkapan besar untuk mengambarkan tahap perekembangan negara sekarang ini alah bahwa indonesia sedang berekprimen dengan demokrasi  yang dinamis maka demokrasi yang berwujud mealui percobaan demi percobaa di dalampelaksanaannya, Sulit di ingkari bahwa dalam tahap percobaan kita taberdemokrasi sekarang ini telah terjadi banyak kekurangan terkait permasalahan perempuan merupakan gabungan dari persoalan persoalan bangsa yang terhimpun menjadi sesuatu yang kompleks, itulah sebab nya permasalahan perempuan tidak dapat di pisahkan dengan permaalahan yang lain jika kita berbicara tentang adanaya krisis yang engancam kehidupan bangsa salah satu deferensiasi dari persoalan bangsa ini adalah persoalan pada kaum perempuan.
Negara indonesia di bangun antara lain oleh imaginasi membentuk sebuah negara dan bangsa ideal, sehingga konsep ideal tatanan masyarakat berbangsa dan bernegara selalau menjadi cambuk dalam mengatur ritme pemerintah, salah satu adalah di dalam kebijakan dan strategi menegani pemberdayaan perempuan mewujudkan kesetaran dan keadilan gender kesejatreaan dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga bermasyrakat berbangsa dan bernegara, jelas di dalam klausa tersebut tuntutan kesejahteraan perempuan dapat di wujudkan di dalam kehidupan dengan melibatkan seluruh komponen dalam lapisan masyrakat. Dewasa ini persoalan perempuan sudah muncul di permukaan sebagai suatu fenomena yang sering bahkan biasa di jumpai dalam kehidupan keseharian bahkan bukahal tabu untuk di bicarakan karena kasus yang terjadi dimasyrakat pun sudah sangat beragam sehingga persoalaln perempuan dari tingkat sederhana hingga kompleks saat ini menjadi komoditi oleh berbagai pihak.
Pada kacamata historis, pergulatan soal perempuan juga sudah terjadi walaupun padak onteks yang berbeda, salah satu fauding father bangsa soekarno adalah seorang negarawan yang memikirkan masalah perempuan malalui pemikiran-pemikiran yang tertuang dalam buku sarina. Di dalamnya belaiu mengatakan dengan tegas bahwa masalah perempuan tentang masyarakat di mana kaum perempuan
mempunyai kewajiban yang sama bersama dengan kaum lelaki dalam pembangunan bangsa, bung karno dan pemikiran-pemikirannya jelas menyatakan bahwa terdapa kontradiksi dari hubungan laki-laki dengan perempuan yang tidakdapat di ingkari serta kontra diksi dari hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak dapat di ingkari, serta kontradiksi sosial ekonomi yang menjadi sumber bagi ketertintdasan yang bernuansa gender, pertentangan bagaiman peran-peran mencoba di bangun oleh kaum hawa dalam ranah publik untuk sebagaian besar bukan lagi menjadi permasalahan yang relevan, meskipun dapak kita rasakan bahwa kesetaraan tidak dapat dinikmati oleh kaum hawa secara keseluruhan, pada kelompok tertentu keberdaan perempuan telah diatur sesuai dengan lingkungan kesempatan dan pengarauh sosial di mana seseorang berada.
Permasalahan hakiki terkait dengan meratanya konsep berpikir ini tentu saja tidak dapat di pisahakan karena blum adanya kesejahteraan sosial yang merata di negara kita. Hal ini merupakan sebuah hukum klausalitas ketika sebuah bangsa belum mencapai tingkat kemamuran yang sesuai dengan trisakti sebagai cita-cita kemerdekanaan bangsa, salah satu nya belum adanya keberdikarian dalam perekonomian yang dapat menjangakau berbagai lini ini yang kemudian terdeferensiasi menjadi permasalah ranah praksis pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok yang di ejewantahkan dengan kemamuran ini kemudian merupakan ending point setiap permasalahan bangsa jika kita melihat kepadas isi keperempuan beberapa banyak perempuan yang di rugikan karena sistem yang tidak dapat di katakan adil baik secara moral dan material contoh kasus upah buru perempuan yang tidak releva dengan keringat yang sudah di kelurkan adalah determinasi dari keadaan bangsa yang belum memihak pada kepeitngan rakyat, cerminan ketimpangan sosial ini sepertinya sudah menjadi kukltur yang sulit untuk di rubah karena sudah menjadi kebiasaan mengakar.
Persoalan yang perlu di ingat pula adalah kenyataan bahwa karakter dan kepribadian suatu bangsa tidak dapat terlepas dari peran sejarah bangsa tersebut, hal ini dapat pula menjadi salah satu permasalahn yang cukup mendasar , permasalahannya adalah jika terjadi ketidaktuntasan dalam memahami kondisi sosiologis sejarah sehingga akan mengakibatkan ketimpangan dalam memahami suatu hal karena subjektifitas manusia juga dapat terbentuk oleh sejarah bahkan hal ini juga akan mempengarui dan berkaitan dan persepsi dalam meahamai prinsip serta landasan di dalam kehidupan sehari hari, fedodalisme yang sudah terjadi berpuluh puluh tahun di negeri ini masih menampakan gejolak luar biasa di tengah kehidupan bersosial masyrakat yang menjadi bahaya adalah jika feodalisme sudah menjelma menjadi suatu kepatuhan dan ketaatan yang di anggap suatu keharusan terhadap suatu yang secara tidak langsung merugikan.
Hal ini kemudian di telan mentah mentah oleh masyrakat khusus nya kaum perempuan untuk mengabdikan diri sebagai sutau loyalitas tanpa batas di tengah kultur lingkungan nya. Sekalipun demikin Bung karnodengan tegas manyatakan pula bahwa yang menjadi tolak ukur keberhasilan terhadap suatu emansipasi atau kesetaraan bukan terletak pada bagaimana perempuan dan laki laki saling menghebatkan diri danmengunggulkan diri satu sama lain. Kerangka peregerakan dan perjuangan kaum perempuan yang dapat membanguan bangsa di kaakan soekarno bukanlah perjuangan yang menentang dan menegasikan adanya keberadaan laki laki sebagai fatner sekaligus penyeimbang di dalam pembangunan bangsa ini melainkan secara bersama sama menuju cita cita sosialisme indonesia.